Pengertian
Dongeng
Dongeng
adalah cerita sederhana yang tidak benar-benar terjadi. Dongeng berfungsi untuk
menyampaikan moral (mendidik) dan juga menghibur. Banyak jenis dongeng
diantaranya adalah :
• Dongeng
binatang/fabel
Fabel adalah
dongeng binatang yang mengandung pendidikan tentang perbuatan
baik dan buruk. Dalam fabel, tokoh binatang berperilaku seperti manusia.
Hal tersebut menggambarkan watak dan budi pekeri manusia. Dongeng Kancil
dan Buaya,dan Kucing Bersepatu Bot merupakan contoh dongeng binatang.
Biasanya, mereka digambarkan sebagai hewan cerdik, licik, dan jenaka.
baik dan buruk. Dalam fabel, tokoh binatang berperilaku seperti manusia.
Hal tersebut menggambarkan watak dan budi pekeri manusia. Dongeng Kancil
dan Buaya,dan Kucing Bersepatu Bot merupakan contoh dongeng binatang.
Biasanya, mereka digambarkan sebagai hewan cerdik, licik, dan jenaka.
• Dongeng biasa
Dongeng biasa
adalah cerita tentang tokoh suka dan duka. Contohnya adalah
cerita Bawang Merah dan Bawang Putih dan Jaka Tarub.
cerita Bawang Merah dan Bawang Putih dan Jaka Tarub.
• Dongeng
lelucon
Dongeng lelucon
berisi cerita lucu tetang tokoh tertentu. Contoh dongeng ini yaitu Si Kabayan
dari Jawa Barat.
Ciri-ciri dongeng antara lain :
•
menggunakan alur
sederhana;
•
cerita singkat
dan bergerak cepat;
•
karakter tokoh
tidak diuraikan secara rinci; dan
•
ditulis seperti
gaya penceritaan secara lisan.
Contoh Dongeng
a. Dongeng Nusantara
tentang Si Kancil dan Siput
Pada suatu hari si kancil nampak ngantuk
sekali. Matanya serasa berat sekali untuk dibuka. “Aaa....rrrrgh”, si kancil
nampak sesekali menguap. Karena hari itu cukup cerah, si kancil merasa rugi
jika menyia-nyiakannya. Ia mulai berjalan-jalan menelusuri hutan untuk mengusir
rasa kantuknya. Sampai di atas sebuah bukit, si Kancil berteriak dengan
sombongnya, “Wahai penduduk hutan, akulah hewan yang paling cerdas, cerdik dan
pintar di hutan ini. Tidak ada yang bisa menandingi kecerdasan dan
kepintaranku”.
Sambil membusungkan dadanya, si Kancil
pun mulai berjalan menuruni bukit. Ketika sampai di sungai, ia bertemu dengan
seekor siput. “Hai kancil !”, sapa si siput. “Kenapa kamu teriak-teriak? Apakah
kamu sedang bergembira?”, tanya si siput. “Tidak, aku hanya ingin
memberitahukan pada semua penghuni hutan kalau aku ini hewan yang paling
cerdas, cerdik dan pintar”, jawab si kancil dengan sombongnya.
“Sombong sekali kamu Kancil, akulah
hewan yang paling cerdik di hutan ini”, kata si Siput. “Hahahaha......., mana
mungkin” ledek Kancil. “Untuk membuktikannya, bagaimana kalau besok pagi kita
lomba lari?”, tantang si Siput. “Baiklah, aku terima tantanganmu”, jawab si
Kancil. Akhirnya mereka berdua setuju untuk mengadakan perlombaan lari besok
pagi.
Setelah si Kancil pergi, si siput segera
mengumpulkan teman-temannya. Ia meminta tolong agar teman-temannya berbaris dan
bersembunyi di jalur perlombaan, dan menjawab kalau si kancil memanggil.
Akhirnya hari yang dinanti sudah tiba,
kancil dan siput pun sudah siap untuk lomba lari. “Apakah kau sudah siap untuk
berlomba lari denganku”, tanya si kancil. “Tentu saja sudah, dan aku pasti
menang”, jawab si siput. Kemudian si siput mempersilahkan kancil untuk berlari
dahulu dan memanggilnya untuk memastikan sudah sampai mana si siput.
Kancil berjalan dengan santai, dan
merasa yakin kalau dia akan menang. Setelah beberapa langkah, si kancil mencoba
untuk memanggil si siput. “Siput....sudah sampai mana kamu?”, teriak si kancil.
“Aku ada di depanmu!”, teriak si siput. Kancil terheran-heran, dan segera
mempercepat langkahnya. Kemudian ia memanggil si siput lagi, dan si siput
menjawab dengan kata yang sama.”Aku ada didepanmu!”
Akhirnya si kancil berlari, tetapi tiap
ia panggil si siput, ia selalu muncul dan berkata kalau dia ada depan kancil.
Keringatnya bercucuran, kakinya terasa lemas dan nafasnya tersengal-sengal.
Kancil berlari terus, sampai akhirnya
dia melihat garis finish. Wajah kancil sangat gembira sekali, karena waktu dia
memanggil siput, sudah tidak ada jawaban lagi. Kancil merasa bahwa dialah
pemenang dari perlombaan lari itu.
Betapa terkejutnya si kancil, karena dia
melihat si siput sudah duduk di batu dekat garis finish. “Hai kancil, kenapa
kamu lama sekali? Aku sudah sampai dari tadi!”, teriak si siput. Dengan
menundukkan kepala, si kancil menghampiri si siput dan mengakui kekalahannya.
“Makanya jangan sombong, kamu memang cerdik dan pandai, tetapi kamu bukanlah
yang terpandai dan cerdik”, kata si siput. “Iya, maafkan aku siput, aku tidak
akan sombong lagi”, kata si kancil.
b. Dongeng Luar Negeri tentang Putri Tidur
Dahulu kala, terdapat sebuah negeri yang
dipimpin oleh raja yang sangat adil dan bijaksana. Rakyatnya makmur dan
tercukupi semua kebutuhannya. Tapi ada satu yang masih terasa kurang. Sang Raja
belum dikaruniai keturunan. Setiap hari Raja dan permaisuri selalu berdoa agar
dikaruniai seorang anak. Akhirnya, doa Raja dan permaisuri dikabulkan. Setelah
9 bulan mengandung, permaisuri melahirkan seorang anak wanita yang cantik. Raja
sangat bahagia, ia mengadakan pesta dan mengundang kerajaan sahabat serta
seluruh rakyatnya. Raja juga mengundang 7 penyihir baik untuk memberikan
mantera baiknya.
"Jadilah engkau putri yang baik
hati", kata penyihir pertama.
"Jadilah engkau putri yang cantik", kata penyihir kedua.
"Jadilah engkau putri yang jujur dan anggun", kata penyihir ketiga.
"Jadilah engkau putri yang pandai berdansa", kata penyihir keempat.
"Jadilah engkau putrid yang panda menyanyi," kata penyihir keenam.
"Jadilah engkau putri yang cantik", kata penyihir kedua.
"Jadilah engkau putri yang jujur dan anggun", kata penyihir ketiga.
"Jadilah engkau putri yang pandai berdansa", kata penyihir keempat.
"Jadilah engkau putrid yang panda menyanyi," kata penyihir keenam.
Sebelum penyihir ketujuh memberikan
mantranya, tiba-tiba pintu istana terbuka. Sang penyihir jahat masuk sambil
berteriak, "Mengapa aku tidak diundang kepesta ini?".
Penyihir terakhir yang belum sempat
memberikan mantranya sempat bersembunyi dibalik tirai. "Karena aku tidak
diundang, aku akan mengutuk anakmu.
Penyihir tua yang jahat segera mendekati tempat tidur sang putri sambil berkata,"Sang putri akan mati tertusuk jarum pemintal benang, ha ha ha ha!..". Si penyihir jahat segera pergi setelah mengeluarkan kutukannya.
Penyihir tua yang jahat segera mendekati tempat tidur sang putri sambil berkata,"Sang putri akan mati tertusuk jarum pemintal benang, ha ha ha ha!..". Si penyihir jahat segera pergi setelah mengeluarkan kutukannya.
Para undangan terkejut mendengar kutukan
sang penyihir jahat itu. Raja dan permaisuri menangis sedih. Pada saat itu,
muncullah penyihir baik yang ketujuh, "Jangan khawatir, aku bisa meringankan
kutukan penyihir jahat. Sang putri tidak akan wafat, ia hanya akan tertidur
selama 100 tahun setelah terkena jarum pemintal benang, dan ia akan terbangun
kembali setelah seorang Pangeran datang padanya", ujar penyihir ketujuh.
Setelah kejadian itu, Raja segera
memerintahkan agar semua alat pemintal benang yang ada dinegerinya segera
dikumpulkan dan dibakar.
Enam belas tahun kemudian, sang putri telah tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik dan baik hati. Tidak berapa lama Raja dan Permaisuri melakukan perjalanan ke luar negeri.
Enam belas tahun kemudian, sang putri telah tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik dan baik hati. Tidak berapa lama Raja dan Permaisuri melakukan perjalanan ke luar negeri.
Sang Putri yang cantik tinggal di
istana. Ia berjalan-jalan keluar istana. Ia masuk ke dalam sebuah puri. Di
dalam puri itu, ia melihat sebuah kamar yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Ia membuka pintu kamar tersebut dan ternyata di dalam kamar itu, ia melihat
seorang nenek sedang memintal benang. Setelah berbicara dengan nenek tua, sang
Putri duduk di depan alat pemintal dan mulai memutar alat pemintal itu. Ketika
sedang asyik memutar alat pintal, tibatiba jari sang Putri tertusuk jarum alat
pemintal. Ia
menjerit kesakitan dan tersungkur di
lantati.
"Hi hi hi...tamatlah riwayatmu!", kata sang nenek yang ternyata adalah sipenyihir jahat.
"Hi hi hi...tamatlah riwayatmu!", kata sang nenek yang ternyata adalah sipenyihir jahat.
Hilangnya sang Putri dan istana membuat
khawatir orang tuanya. Semua orang diperintahkan untuk mencari sang Putri. Sang
putri pun ditemukan. Tetapi ia dalam keadaan tak sadarkan diri.
"Anakku ! malang sekali
nasibmu" ratap Raja. Tiba-tiba datanglah penyihir muda yang baik hati.
Katanya, "Jangan khawatir, Tuan Putri hanya akan tertidur selama seratus
tahun. Tapi, ia tidak akan sendirian. Aku akan menidurkan kalian semua,"
lanjutnya sambil menebarkan sihirnya ke seisi istana. Kemudian, penyihir itu
menutup istana dengan semak berduri agar tak ada yang bisa masuk ke istana.
Seratus tahun yang panjang pun berlalu.
Seorang pangeran dari negeri seberang kebetulan lewat di istana yang tertutup
semak berduri itu. Menurut cerita orang desa di sekitar situ, istana itu dihuni
oleh seekor naga yang mengerikan. Tentu saja Pangeran tidak percaya begitu saja
pada kabar itu."Akan ku hancurkan naga itu," kata sang Pangeran.
Pangeran pun pergi ke istana. Sesampai digerbang istana, Pangeran mengeluarkan
pedangnya untuk memotong semak belukar yang menghalangi jalan masuk. Namun,
setelah dipotong berkali-kali semak itu kembali seperti semula. "Semak apa
ini ?" kata Pangeran keheranan.Tiba-tiba muncullah seorang penyihir muda
yang baik hati. "Pakailah pedang ini," katanya sambil memberikan
sebuah yang pangkalnya berkilauan. Dengan pedangnya yang baru, Pangeran berhasil
masuk ke istana. "Nah, itu dia menara yang dijaga oleh naga."
Pangeran segera menaiki menara itu. Penyihir jahat melihat kejadian itu melalui
bola kristalnya. "Akhirnya kau datang, Pangeran. Kau pun akan terkena
kutukan sihirku!" Penyihir jahat itu bergegas naik ke menara. Ia
menghadang sang Pangeran.
Hai Pangeran!, jika kau ingin masuk, kau
harus mengalahkan aku terlebih dahulu!" teriak si Penhyihir.
Dalam sekejap, ia merubah dirinya
menjadi seekor naga raksasa yang menakutkan. Ia menyemburkan api yang panas.
Pangeran menghindar dari semburan api itu. Ia menangkis sinar yang terpancar
dari mulut naga itu dengan pedangnya. Ketika mengenai pangkal pedang yang
berkilau, sinar itu memantul kembali dan mengenai mata sang naga raksasa.
Kemudian, dengan secepat kilat, Pangeran melemparkan pedangnya ke arah leher
sang naga.
"Aaaa..!" Naga itu jatuh
terkapar di tanah, dan kembali ke bentuk semula, lalu matiBegitu tubuh penyihir
tua itu lenyap, semak berduri yang selama ini menutupi istana ikut lenyap. Di
halaman istana, bunga-bunga mulai bermekaran dan burung-burung berkicau riang.
Pangeran terkesima melihat hal itu. Tiba-tiba penyihir muda yang baik hati
muncul di hadapan Pangeran.
“Pangeran, engkau telah berhasil
menghapus kutukan atas istana ini. Sekarang pergilah ke tempat sang Putri
tidur," katanya.Pangeran menuju ke sebuah ruangan tempat sang Putri tidur.
Ia melihat seorang Putri yang cantik jelita dengan pipi semerah mawaryang
merekah.
"Putri, bukalah matamu,"
katanya sambil mengenggam tangan sang Putri. Pangeran mencium pipi sang Putri.
Pada saat itu juga, hilanglah kutukan sang Putri. Setelah tertidur selama
seratus tahun, sang Putri terbangun dengan kebingungan. "Ah! apa yang
terjadi? Siapa kamu?” Tanyanya.
Lalu Pangeran menceritakan semua kejadian yang telah terjadi pada sang Putri.
Lalu Pangeran menceritakan semua kejadian yang telah terjadi pada sang Putri.
Pangeran, kau telah mengalahkan naga
yang menyeramkan. Terima kasih Pangeran," kata sang Putri. Di aula istana,
semua orang menunggu kedatangan sang Putri. Ketika melihat sang Putri dalam
keadaan sehat, Raja dan Permaisuri sangat bahagia. Mereka sangat berterima
kasih pada sang Pangeran yang gagah berani.
Kemudian Pangeran berkata, "Paduka
Raja, hamba punya satu permohonan. Hamba ingin menikah dengan sang Putri."
Rajapun menyetujuinya. Semua orang ikut bahagia
mendengar hal
itu. Hari pernikahan sang Putri dan Pangeran pun tiba. Orang berbondong-bondong datang dari seluruh pelosok negeri untuk mengucapkan selamat. Tujuh penyihir yang baik juga datang dengan membawa hadiah.
itu. Hari pernikahan sang Putri dan Pangeran pun tiba. Orang berbondong-bondong datang dari seluruh pelosok negeri untuk mengucapkan selamat. Tujuh penyihir yang baik juga datang dengan membawa hadiah.

Komentar
Posting Komentar